Ada setitik penasaran yang bergejolak
dan menginginkan pembuktian ketika seorang teman menceritakan pada saya bahwa
lukisan sukarno yang dipajang pada sebuah galeri dikompleks makam sukarno di kabupaten Blitar menyimpan
sebuah misteri. Sudah cukup banyak yang sudah membuktikan bahwa lukisan sukarno yang dipajang
di pemakaman beliau seolah hidup. Jika lukisan tersebut di lihat dari samping,
bagian jantung pada lukisan tersebut seolah berdenyut sebagaimana jantung
manusia normal. Denyut jantung lukisan ini oleh masyarakat kemudian dikaitkan
dengan hal yang berbau mistis, mulai dari kesaktian, kharisma dan lain
sebagainya. Saya kira hidup di abad modern yang mengedepankan sisi rasionalitas
adalah suatu yang sangat mustahil kalau kita mengaitkan antara detak jantung
sebuah lukiskan dengan kekuatan magis tertentu. Karena abad yang menjunjung
rasionalitas ini mengharuskan kita untuk menilai sesuatu pada sisi rasionalitas
maka dalam memahami dan menganalisa sesuatu tentu kita harus mendasarkan pemikiran
pada sesuatu yang diterima oleh akal pikiran secara rasional.
Dalam hal ini saya lebih sepakat
dengan analisa seorang pelukis yang mengatakan bahwa lukisan tersebut tidak
memiliki kekuatan magis tertentu. Dalam membuat suatu lukisan seolah hidup adalah
sebuah kecakapan luar biasa dari para penjiwa seni. Dimana hal seperti itu bagi mereka bukan
sesuatu yang luar biasa. Permainan warna dan cat pada setiap goresan diatas
kanvas membawa makna yang dalam, yang bisa membuat hidup setiap lukisan yang
mereka hasilkan. Proses detak jantung pada lukisan tersebut hanyalah sebuah
proses permainan warna. Dimana ketebalan cat pada bagian-bagian tertentu sangat
berbeda. Pada bagian jantung lukisan sukarno, diberi torehan warna yang agak
tipis dibanding dengan bagian lain lukisan. Dengan melakukan torehan warna
tipis yang berbeda bagian lukisan, maka pada bagian jantung merupakan bagian
sensitif pada lukisan. Sekecil apapun getaran yang terjadi pasti pada bagian
yang tipis ini akan bergerak. Dan hembusan angin paling haluspun bagian ini
akan menibulkan sebuah reaksi, karena hal ini juga yang membuat kenapa lukisat
tersebut tidak dibuatkan bingkai kaca maupun dipajang menyandar pada dinding.
Blitar, 29 Desember 2011