Selamat Datang

Mencoba Melukis Makna Dalam Deretan Aksara

Jumat, 05 Agustus 2011

Nilai Sebuah Kesan


Pemikiran setiap orang paling suka menyimpan sesuatu yang sangat berkesan dalam pemikiran mereka, bahkan sebuah kesan akan tahan dan awet dalam kubangan memori. Tak kenal ruang dan waktu, maupun kondisi baik atau bad mood sebuah kesan akan tetap indah, Saya merasa bahwa akan sia-sia setiap waktu yang dilewati jika berlalu tanpa sebuah sebuah kesan yang bisa diciptakan. Untuk itu seseorang harus jeli melihat dan menentukan sesuatu bisa dijadikan sebagai gumpalan kesan yang tidak akan pudar kadarnya walaupun melampaui ruang dan waktu. Dia akan tetap indah dan menjadi khayalan yang menyejukkan untuk kemudian  melenakan kita dalam lelap mengarungi alam mimpi. Seperti itulah, setiap jejak episode kehidupan akan selalu menyisakan kesan mendalam dalam kehidupan setiap orang.

 Sebuah kesan dari sebungkus cilok

Pada umumnya sebuah kesan akan berkaitan dengan hal-hal yang berdimensi lahiriah, karena sebuah kesan merupakan untaian atau rangkuman dari serpihan-serpihan data yang direkam kedalam setiap memori manusia. Dalam sebuah iklan mengatakan bahwa, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda, sementara dalam sebuah undangan yang pernah saya baca, disitu tertulis tiada kesan tanpa kehadiranmu Seperti apa yang diungkapkan dalam iklan diatas maupun yang tertulis dalam sebuah undangan, sebuah kesan memiliki kekuatan tertentu. Sebuah kekuatan yang melekat dengan erat dan sulit untuk lepas dari pikiran seseorang.


Sebuah kesan akan lebih mengental ketika dalam sebuah kesan kita menemukan nilai manfaat, karena pada umumnya setiap kesan pasti membawa pesan yang sangat bermanfaat bagi siapapun yang mampu menangkap setiap pesan yang lahir dalam sebuah kesan. Melihat pesan ini bukan perkara gampang karena pesan ini sifatnya abstrak. Dan hanya yang memiki kepekaan yang tinggi yang mampu mengangkap pesan dari sebuah fenomena yang sedang terjadi. Dan biasanya sebuah pesan dari sebuah kesan akan terpecahkan ketika kita mampu mencerahkan dan menjernihkan hati kita melalui kontemplasi maupun perenungan yang panjang.



Malang, 05 Agustus 2011
Gang 19 Kav. 7/7

Kamis, 04 Agustus 2011

Catatan Renungan Ramadhan 3



Ilmu Lebih Utama daripada Harta
Alkisah pada zaman dahulu kala, di kota Basrah (Irak), manusia saling berselisih pendapat tentang manakah yang lebih bermanfaat dan berguna: ilmu pengetahuan atau harta? Sebagian orang mengatakan, “Ilmu pengetahuan lebih baik dari pada harta.” Dan sebagian lagi mengatakan, kalau harta lebih baik dari pada ilmu pengetahuan.” Untuk mendapatkan jawaban dari apa yang mereka perdebatkan akhirnya, mereka mendatangi seorang ulama untuk minta pendapat atau jawaban atas apa yang mereka perdebatkan.

Ulama itu berkata, Katakanlah kepada mereka bahwa ilmu pengetahuan lebih baik daripada harta. Akan tetapi, orang yang bertanya kepadanya mengatakan, Lalu apa yang harus aku katakan jika mereka menanyakan kepadaku tentang dalil dan alasan pendatmu ini. Ulama itu menjawab, Katakanlah kepada mereka bahwa ilmu pengetahuan adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan Fir’aun. Ilmu pengetahuan adalah yang menjadi penjaga bagi dirimu, sedangkan harta, kamulah yang harus bertugas menjaganya. Di atas itu semua, ilmu pengetahuan adalah pemberian dari Allah yang tidak dianugerahkan kecuali kepada orang yang Dia cintai, sebagai mana firman-Nya, Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (tuhan) Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. (Az-Zukhruf : 33)

Ilmu pengetahuan itu lebih baik daripada harta, karena ilmu pengetahuan, semakin sering dikeluarkan akan semakin bertambah keberkahannya dan orang yang mengeluarkan akan bertambah ilmunya. Sedangkan harta, semakin banyak dibelanjakan, maka akan semakin berkurang jumlahnya. Hal yang paling penting adalah bahwa untuk mendapatkan harta kita harus memiliki ilmu pengetahuan karena tidak adanya pengetahuan hanya akan mendekatkan kita pada kebodohan dan kebodohan itu dekat dengan kemiskinan. Sehingga ada ungkapan dari teman saya yang mengatakan bahwa kebodohan itu merupakan jalan lewatnya kesengsaraan dan kemiskinan. 


Pemilik harta apabila telah meninggal dunia, maka kenangan tentang dirinya akan segera hilang. Sedangkan orang yang memiliki ilmu pengetahuan, walaupun dia telah meninggal dunia, tetapi kenangan tentang dirinya akan terus abadi. Orang yang memiliki harta akan mati, sedangkan orang yang memiliki ilmu pengetahuan tidak akan pernah mati. Orang yang memiliki harta akan ditanya di hari kiamat nanti tentang dari mana dia mendapatkan uangnya? Kemana uang tersebut dibelanjakan? Sedangkan orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan diangkat derajatnya di sisi Allah, segabagimana disebutkan di dalam Al-Qur’an: Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahu. (Az-Zumar : 9).

Betapa pentingnya ilmu pengetahuan itu bagi setiap orang, sebagaimana yang tertulis dalam sebuah hadist yang mengatakan bahwa menuntut ilmu itu lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun, malah pada hadis lain seolah-olah bahwa menuntut ilmu itu adalah sebuah kewajiaban, dimana dalam hadist tersebut mengatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim pria dan wanita. Mungkin karena pentingnya ilmu pengetahuan ini juga sampai ayat pertama yang Allah turunkan merupakan ayat yang berisikan perintah membaca. Yang saya pahami membaca disini adalah membaca secara tersurat maupun yang tersirat. Sementara pada hadist yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu mengatakan bahwa orang yang pergi menuntut ilmu maka Allah akan menjaganya sampai ia kembali.



Malang, 04 Agustus 2011
Gang 19 Kav. 7/7

Umar Sayang Bunda


“Bunda, kenapa Allah gak kasih kita hidup enak yah?” tanya seorang anak pada ibunya. “Mungkin karena Allah amat sayang sama kita,” jawab bundanya dengan santun. “Begitu ya, bunda?” Anaknya berujar. “Iya, nak. Allah amat sayang sama kita, Allah gak mau kita terlena sama nikmat dunia,” sambil meneteskan air mata Bundanya berujar pelan. Sore pun menjelang, bersiaplah Umar kecil untuk pergi ke masjid dekat rumahnya. Mengenakan peci kesayangannya dan kain sarung yang agak kumal. Langkahnya berpacu dengan suara iqamah petang itu. Dari sudut jendela, bundanya tertegun melihat anaknya amat riang mendengar panggilan Allah itu. “Ayo, nak, bergegas. Jangan sampai kau telat shalat maghrib ini!” teriak bundanya dari balik jendela. “Iya, Bunda. Assalamu’alaikum…” jawab Umar.

Bangga rupanya bunda Umar ini, melihat pelita kecilnya rajin ibadah. Matanya berkaca-kaca saat teringat Ramadhan tahun yang lalu. “Sayang, andai kau lihat anak kita saat ini, dia lucu sekali,” gumam bunda Umar dalam hati. Melayang pikiran bunda Umar, mencoba menginggat setahun yang lalu di kamar ini. Selepas ia tunaikan shalat maghrib, diraihnya Mushaf kecil agak kusam lalu air matanya menetes perlahan. “Sayang, aku rindu saat-saat itu,” lirihnya pelan sebelum membaca Ar-Rahman malam itu. “Andai kau ada di sini sayang, melihat tingkah Umar yang lucu. Memegang pipinya yang tembem, kau elus rambutnya yang lebat. Akhhh… Betapa nikmat, sayang. Andai Allah berikan kesempatan kita berkumpul kembali, menikmati lantunan suaramu saat kau jadi Imam kami, kau bacakan surat kesukaanmu, kau do’akan kami semua agar kami sehat selalu. Kau berikan tanganmu untuk kukecup tanda baktiku untukmu. Kau elus kepala imut Umar, sayang. Andai kesempatan itu kembali terulang.” “Bunda, kenapa nangis?” dielusnya pipi putih Bunda oleh Umar.
“Bunda gak apa-apa kok, nak. Bunda cuma kangen sama ayah,” sambil dikecupnya kening Umar yang baru pulang dari masjid. “Bunda, emang ayah ke mana?” tanya polos Umar. Sambil menitikan air mata, Bunda pun membelai kepala kecil Umar. “Ayah udah ketemu sama Allah, nak. Ia tersenyum di sana. Ayah titip pesen kalo Umar harus jaga Bunda. Kau mau, nak?” tanya Bunda sambil mengusap air mata. “Mau, Bunda. Bunda kesayangan Umar. Umar pastiii jagaa bunda,” sambil tersenyum riang Umar menjawab. Tawa kecil pun meledak di malam sunyi itu. “Ayo, nak. Mari kita tidur. Besok pagi-pagi kita temui ayah. Umar harus janji sama ayah bakal jaga Bunda ya?” ajak Bunda. “Iya, Bunda. Umar janji jaga Bunda,” mata Umar pun seraya tertutup.

“Masya Allah…” teriakku terbangun dari tidur. Tak terasa sudah hampir 3 jam aku tertidur amat pulas. Sesaat tersadar kalau malam ini, aku bermimpi bertemu Umar dan suamiku. “Allahu akbar…” tak terasa aku kembali meneteskan air mata. Terkenang semua yang pernah terjadi malam ini, kecelakaan yang merengut kedua belahan jiwa membuatku kembali menitikan air mata. Masih ingat olehku, bagaimana senyum manis Umar sebelum berangkat shalat ke masjid. Masih ingat olehku, bagaimana suamiku mencium keningku sebelum aku pergi tidur. “Tuhan… Jaga belahan Jiwaku. Berilah mereka tempat yang lapang, ya Rabb. Kumpulkan mereka sebagai umatmu yang bertakwa. Tuhan… Kumpulkan kami kembali di JannahMu. Aku rindu Umar…” do’aku lirih menutup qiyamul lail malam ini. Bunda sayang kalian… Tunggu bunda yah! Kita pasti akan bertemu kembali, sayang.

(Laa ilaaha illaa annta subhaanaka inni kunntu minazhahaalimin…Laa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil’azhim)

Cerita ini ditulis oleh Ukasah Aditya dari KotaSantri.com


Malang, 04 Agustus 2011

Rabu, 03 Agustus 2011

George Downing



Istilah tidak ada waktu, jarang sekali merupakan alasan yang jujur, karena pada dasarnya kita semuanya memiliki waktu 24 jam yang sama setiap harinya. Yang perlu ditingkatkan ialah membagi waktu dengan lebih cermat. ~ George Downing



Malang, 03 Agustus 2011

Catatan Renungan Ramadhan 2




Membeningkan Hati Dengan Puasa

Puasa adalah ibadah yang penting bagi umat muslim, sehingga berbagai umat muslim di belahan dunia menantikan bulan yang suci ini. Puasa bagi umat muslim tentu bukan hanya sebatas sekuat apa seseorang menahan hawa nafsunya. Tapi puasa memiliki berbagai hikmah. Diantara hikmah puasa adalah agar supaya kita bisa menjernihkan hati dan pikiran. Karena selama puasa seseorang melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsunya. Selama sebulan melatih diri mengendalikan hawa nafsu akan membuat pribadi seseorang tercerahkan, dengan puasa, seseorang  bisa membeningkan hati yang selama ini diliputi rasa iri, dengki dan lain sebagainya. Sehingga adalah sangat tepat kalau puasa adalah bulan untuk mendidik hati kita agar tidak terbuai untuk mengejar keinginan-keinginan duniawi. Sebuah pendapat yang pernah saya baca dimana seorang sufi mengatakan bahwa dunia ini seperti jembatan yang hanya akan menjadi sarana bagi kita untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi yang lain jadi lebih lanjut sang sufi mengatakan bahwa apa untungnya membangun gedung mewah diatas sebuah jembatan.

Kebiasaan kita selama ini sebelum ramadhan kadang tidak terkedali dan cenderung ingin memuaskan hawa nafsunya merasa terlena dan terbuai untuk melakakukan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT. Kita mengejar keinginan-keinginan kita tanpa peduli dengan orang lain, kita hanya peduli bagaimana memenuhi kepentingan kita sendiri, memenuhi perut dengan makan dan minum. Pada hal mengisi perut dengan banyak makan dan minum hanya akan mengeraskan hati kita sehingga lalai dan tidak mau taat kepada perintah Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadist, bahwa Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya." (HR. Imam Ahmad dll).


Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut. Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya. Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani Rahumahullah: Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya. Lapar yang melembutkan hati, yang saya maksud disini maksudnya adalah bukan sekedar merasa lapar. Tapi bagaimana kita bisa belajar dari rasa lapar yang kita rasakan selama menjalankan ibadah puasa. Dengan merasakan lapar bisa membuat kita toleran dan memahami kesulitan orang lain yang sedang kelaparan serta tidak egois sehingga kita ikhlas untuk membantu orang lain. Karena kita sering mengukur penderitaan orang lain dengan menstandarkan atas penderitaan-penderitaan yang pernah kita alami.

Semoga dengan menjalankan ibadah puasa akan membuat kita mendapatkan kejernihan pikiran, kebeningan jiwa dan keteduhan. Selain itu momentum ibadah puasa akan mengantarkan kita pada penemuan hakekat kehidupan yang akan membuat pribadi kita menjadi sosok yang terus yang berproses untuk mencapai kesempuraan. Ibadah puasa akan menjadi momentum yang berharga, manusia sebagai makhluk pendosa terhadap pencipta bisa memperbaiki diri dan menyucikan setiap kesalahan-kesalahan yang disengaja maupun tidak di sengaja. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, bahwa barang siapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan di ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.



Malang, 03 Agustus 2011
Gang 19. Kav. 7/7

Selasa, 02 Agustus 2011

Catatan Renungan Ramadhan 1





Setiap Do,a Pasti Terkabul
Seandainya kita mau mengumpamakan satu keinginan kita senilai dengan sebiji kerikil kecil entah wadah apa yang bisa menampung keinginan satu orang saja. Setiap orang saja memiliki ribuan bahkan jutaan keinginan yang ingin mereka wujudkan sehingga kadang kita mentransmutasikan setiap keinginan-keinginan kita kedalam bentuk doa, mungkin dalam satu hari saja ada jutaan doa yang dipanjatkan oleh manusia agar keinginannya di wujudkan oleh Allah Swt.

Namun karena sifat dasar manusia yang cenderung terburu-buru dan tidak mau bersabar terkadang kita tanpa berpikir panjang kita memberikan vonis kepada Tuhan bahwa Dia tidak mau mendengar dan mengabulkan setiap doa Kita. Pada hal kalau kita mau sejenak meluangkan waktu kita untuk merenungi setiap doa yang kita panjatkan ternyata Tuhan selalu mengabulkan setiap doa yang kita panjatkan dan tidak ada satu doapun yang Ia lewatkan dan abaikan sebagaimana dalam sebuah firmannya UD UUNI ASTAJIBLAKUM yang artinya : Berdoalah kepadaku niscaya akan kukabulkan.

Ketika kita berdoa kepada Allah untuk diberikan kesabaran ternyata Allah mengabulkannya dengan memberikan berbagai penderitaan hidup kepada kita agar kita menjadi orang yang sabar dan tabah karena kesabaran hanya bisa dicapai ketika kita mampu melewati setiap penderitaan. Sehingga seorang orientalis barat mengatakan bahwa penderitaan apapun yang membuat kita tidak mati akan membuat kita lebih kuat. Bukankah Kesabaran Rasulullah ditempa dari berbagai penderitaan dan ujian hidup yang begitu berat.

Ketika kita berdoa kepada Allah agar kita diberikan kekayaan Allah memberikan kita kekuatan dan kesehatan agar kita bisa mencari harta yang Ia tebar di muka bumi ini, saat kita lelah dengan deraan persoalan hidup yang datang menyapa kita kemudian kita berdoa kepada Allah agar di jauhkan dari persoalan hidup yang cukup membuat kita stress Allah mengabulkannya dengan memberikan persoalan yang lebih berat karena hanya dengan cara seperti itu kita bisa mendewasakan pemikiran kita agar kita bisa mencari jalan keluar dari setiap persoalan-persoalan yang kita hadapi, dalam setiap doa kita marilah kita merenungi kembali doa yang kita panjatkan karena kadang kita minta kebahagiaan justru penderitaan yang diberikan karena sesungguhnya kebahagiaan kita terletak ketika kita berhasil melewati setiap derita kita.



Prigi, 02 Agustus 2011

Senin, 01 Agustus 2011

Perempuan Penjala Ikan



Tingginya persaingan dan banyaknya rival mengharuskan seseorang untuk betul-betul memiliki keahlian yang memadai untuk bisa bertahan hidup dalam lingkungan yang penuh dengan intrik social. Dalam kehidupan seperti ini semua melakukan berbagai intrik hanya untuk bagaimana agar mereka bisa bisa mempertahankan hidup. Keinginan untuk mempertahankan hidup ini sering kali mampu mengubah pribadi dari kebiasaan dengan pribadi yang lemah menjadi sosok yang kuat, banyak pribadi yang tadinya manja kemudian menjadi pribadi yang mandiri, selama ini kita mengenal sosok perempuan sebagai sosok cengeng dan lemah tapi kadang kerasnya kehidupan membentuk sosok mereka menjadi seorang petarung yang tidak kenal lelah dan putus asa.

Seperti itulah kehidupan yang sempat saya saksikan disuatu senja di pantai prigi. Disini pria dan wanita sibuk dengan urusan masing-masing. Disini saya menyaksikan bagaimana para perempuan mencoba mempertahankan hidup dengan menjadi penjala ikan. Mungkin ini adalah sebuah kehidupan yang akan membuat kita memberi fonis bahwa dimana tanggung jawab suami mereka yang seharusnya memberikan mereka nafkah. Tuntutan kehidupan telah membuat sebagian perempuan di Prigi untuk tidak berpikir tanggung jawab suami dan duduk manis untuk dinafkahi oleh kaum pria. Mereka sangat memahami bahwa tingginya persaingan membuat mereka merasa bahwa kehidupan telah memasuki ruang-ruang kehidupan mereka untuk menuntut tanggung jawab yang tidak hanya dari kaum pria.

Mungkin oleh sebagian akan merendahkan mereka atas pekerjaan yang mereka lakukan, karena selama ini  kita sering menilai status dengan standar pekerjaan. Sehingga banyak orang yang merasa bangga ketika mereka berhasil lolos bekerja pada kantor-kantor bergengsi dengan gaji jutaan rupiah. Kadang ketika seseorang berhasil memperoleh pekerjaan, baik dengan status sebagai PNS atau swasta, merasa bahwa hidupnya sudah berada pada status yang lebih dibanding dengan mereka yang bekerja sebagaimana yang diklaim selama ini sebagai pekerja kasar. 

Entah bagaimana pendapat sebagian orang yang akan menganggap mereka sebagai pekerja pada level rendah atau level apapun yang membuat mereka dipandang berbeda dengan profesi lain. Atau apa yang disebut oleh marx tentang perbedaan kelas, tapi inti dari apa yang mereka lakukan dan serendah apapun. Itu adalah sebuah wujud tanggung jawab yang tinggi untuk kelangsungan kehidupan mereka dimana tanggung jawab ini juga sama seperti tanggung jawab yang dari profesi manapun. Semuanya dilandasi oleh motif ekonomi dan mempertahankan kelangsungan hidup mereka. 

Kita tidak bisa menilai mereka dan memberi status rendah terhadap pekerjaan apa yang sedang mereka lakukan, karena memberi penilaian semacam ini hanya akan menciptakan kelas-kelas social yang mebuat kita melihat mereka sebagai sebuah komunitas yang berbeda dengan yang lain. Mungkin kita akan sedikit bijaksana seandainya kita melihat profesi mereka sebagai pribadi penjala ikan adalah sebuah bentuk tanggung jawab yang harus di akui dan disamakan dengan profesi apapun. Semuanya bekerja karena satu hal yaitu tanggung jawab.




Prigi, 01 Agustus 2011