Selamat Datang

Mencoba Melukis Makna Dalam Deretan Aksara

Minggu, 03 Oktober 2010

Legenda Cinta Yang Menggetarkan

Agar tidak bosan dengan rutinitas dan tugas kampus, disela-sela kesibukan tugas yang menumpuk saya sempat untuk menamatkan sebuah novel yang saya beli di Gramedia Malang beberapa waktu lalu. Sebuah novel yang kekuatan kisahnya belum memudar hingga saat ini. Bahkan sampai saat ini pun belum ada novel yang menandingi kehebatan novel Layla Majnun karya Nizami yang oleh sastrawan besar Jerman Goethe mengatakan bahwa Nizami adalah Roh Agung yang berbicara tentang perhelatan termanis dari cinta yang terdalam.

Sebelum membaca novel tersebut saya menganggap bahwa apa yang di ungkapkan oleh Goethe terlalu berlebihan dan sengaja di besar-besarkan. Namun setelah menelusuri novel nizami ini kata demi kata membuat saya berpikir bahwa ungkapan Goethe hanyalah sebuah noktah bagi sebuah mahakarya agung yang merajai dunia sastra. Saya kira tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa novel ini merajai dunia sastra, karena novel Nizami ini telah menginspirasi William Shakespeare untuk menulis Romeo and Juliet, menginspirasi penyair besar Rumi saat mengubah Masnawi dan Diwani Syamsi Tabriz, dan menginspirasi Eric clapton dalam melahirkan sebuah lagunya Layla.

Dalam novel Qays dan Layla ini nizami mencoba menggambarkan tentang kisah cinta sepasang pemuda dalam bahasa yang indah dan mengalir hingga titik terjauh dalam kebeningan samudra jiwa pembaca. Cinta dalam pandangan Nizami begitu agung dan menempatkannya dalam posisi yang terhormat, tidak seperti cinta dalam pandangan barat yang melihat cinta tidak lebih dari nafsu dimana puncak cinta tertinggi mereka adalah saat ritual seksual. Saya melihat dalam novel qays dan layla ini nizami menganggap bahwa seksual hanyalah sebuah efek samping (side efect) dari cinta dan bukanlah sebuah prioritas. Sehingga dalam ungkapannya nizami menyatakan dengan jelas bahwa di dalam cinta, kedekatan yang terlalu dekat sangatlah berbahaya bagi seorang pecinta.

Walaupun dalam novel ini bercerita dan bertemakan tentang cinta yang dilakoni oleh Qay dan Layla, namun kalau di lihat dari perspektif yang berbeda, novel ini membahas tentang hakekat cinta yang seutuhnya namun nizami mengemasnya dan membungkus hakekat cinta tersebut dalam sebuah kisah sehingga gampang dipahami. Dalam setiap dialog yang terjadi dari para pelaku dalam novel tersebut selalu mengandung sentilan nilai pesan sosial maupun spritual yang begitu mendalam sehingga novel tersebut seolah hidup dan pernah terjadi di suatu masa yang lampau.

Keseriusan majnun meleburkan jiwanya kedalam bayangan majnun membuat ia sendiri lupa akan dirinya. Tingkahnyapun begitu aneh hingga ia berteman dengan binatang. Rasa cinta majnun yang begitu mendalam pada layla membuatnya menghilangkan penguburan akan dirinya, yang membawanya pada kematian diatas pusara sang kekasih.

Membaca kisah Qay dan Layla ini membuat saya yakin bahwa cinta memiliki kakuatan luar biasa, sejak manusia pertama hingga saat ini kekuatannya belum memudar, walaupun ribuan bahkan jutaan tahun telah dilampaui. Mungkin kekuatan inilah yang membawa Bapak dan Sesepuh Manusia saat ini (Adam) melakukan pencarian terhadap sang kekasih selama beberapa ratus tahun.




gang v/250 24 juni 2010