Selamat Datang

Mencoba Melukis Makna Dalam Deretan Aksara

Minggu, 03 Oktober 2010

Malam Minggu Dan Ritual Kaum Muda

Kenapa wanita dari zaman purba tidak pernah mendapatkan tempat yang terhormat di dunia ini. Dalam kehidupan kuno Yunani, wanita hanya dijadikan sebagai pelengkap prosesi dalam sebuah ritual. Diman dalam ritual tersebut dipilih seorang perawan yang masih suci dan cantik, wanita yang terpilih kemudian di jadikan sebagai tumbal untuk dipersembahkan buat para dewa. Apakah alasan sampai wanita merelakan dirinya untuk di jadikan sebagai tumbal para dewa. Selintas saya berpikir bahwa wanita itu adalah makhluk lemah dan tidak berpikir. Naluri wanita memang seperti itu gampang pasrah dan bangga dengan pakaian mewah, dan sedikit iming-iming. Ataukah memang wanita gila akan sebuah kehormatan, karena terpilih untuk bertemu dewa, dimana rasa bangga akan sebuah kehormatan telah melumpuhkan keinginan mereka untuk hidup.

Dizaman moderen seperti inipun wanita masih tetap jadi bahan eksploitasi kaum pria. Imansipasi dan kesetaraan gender pun seolah memberi peluang bagi kaum pria untuk lebih bebas lagi mengeksploitasi wanita. Dengan dalih modernisasi wanita rumahan dianggap kolot dan kuno. Dengan alasan pembangunan kampung maksiatpun bermunculan seperti jamur di musim hujan, bahkan tak pernah sepi dari pengunjung. Tidak sedikit wanita yang mencoba memberontak untuk bebas dari tekanan budaya dan agama hanya karena malu dikatakan kolot. Mereka mencoba menerobos kodrat seolah dengan ungkapan modern status dan harga diri mereka menjadi lebih baik dan mendapat kehormatan di masyarakat.

Walaupun ada perbedaan antara prosesi ritual kuno dengan modern namun pada hakekatnya masih sama antara ke duanya, hanya memposisikan wanita sebagai korban dan bahan eksploitasi kaum pria. Sebagai sebuah fakta sederhana saya melihat kalau malam minggu itu tidak lebih dari sebuah ritual modernisasi, dimana wanita berhias dengan pakaian mewah dan menarik, menyiram tubuhnya dengan aroma parfum ratusan ribu untuk kemudian diarak dengan kendaraan keliling kota. Kondisi ini hanya menjadikan wanita tidak lebih dari sebuah pajangan bernyawa untuk di pamerkan kepada orang banyak. Lantas yang menjadi pertanyaan bagi kita, kebahagiaan apa yang didapatkan seorang wanita dari hasil arak-arakan seperti itu.



Gang V/250 30-05-2010