
Kemudian secara diam-diam pendeta Valentine menikahkan mereka dalam sebuah gereja. Valentine tahu bahwa resiko yang akan dia terima adalah sebuah resiko yang tidak kecil bahkan resiko tersebut bisa menyebabkan ia sendiri kehilangan nyawa. Karena keputusan yang dia ambil bertentangan dengan keputusan negara dimana saat itu mengharuskan semua pemuda untuk ikut berperang. Raja yang kemudian mengetahui apa yang dilakukan oleh valentine, kemudian memerintahkan kepada algojonya untuk menghukum mati pendeta valentine yang telah berani melawan keputusan seorang raja. Sebagai masyarakat biasa tentu valentine tidak memiliki kekuatan untuk menolak wewenang seorang raja sebagai penguasa tunggal.

Begitu mengakarnya kisah tragis ini hingga kemudian setelah melampaui beberapa waktu tidak membuat kisah ini memudar. Justeru lamanya waktu yang dilewati membuat kisah tragis ini semakin mengakar. Dikalangan anak muda kisah ini seolah sebuah kehidupan yang tidak bisa dilepaskan dengan begitu mudah. Dunia anak muda justeru menjadikan kisah tragis ini tetap terpelihara dan benar-benar seolah hidup. Kisah tragis masa silam ini benar-benar merasuki jauh lebih dalam hingga seolah tidak ada ruang bagi kisah lain dalam diri mereka. Fanatisme anak muda akan kisah ini kemudian memperpanjang usia kisah masa silam ini untuk tidak dicampakan kedalam keranjang berlabel legenda kuno.
Dalam perkembangan kehidupan sosial yang hingga hari, dunia telah mengalami percepatan perubahan yang tidak disertai dengan keseimbangan laju etika kehidupan sosial. Perkembangan yang cepat ini tidak hanya terjadi pada satu sektor saja tapi mempengaruhi semua lini kehidupan. Perkembangan yang tidak seimbang ini kemudian mengacaukan kehidupan sosial yang selama berjalan dengan sangat harmonis. Kekacauan ini kemudian mengubah pola pandangan masyarakat dalam melihat kehidupan. Dunia perayaan valentine yang selama ini disimbolkan untuk merayakan kasih sayang kemudian terpeleset menjadi pesta seks. Dimana nilai sakral dari valentine ini bukan lagi terletak pada kisah asal mula lahirnya hari valentine. Kasih sayang yang semula masih dalam batas wajar yang diwujudkan lewat hadiah dan ungkapan tulus kejujuran ini kemudian dikacaukan oleh pemahaman lain. Dimana dalam perayaan ini seolah tidak sakral tanpa disertai dengan ritual seks. Penyerahan diri secara total pada ritual seks seolah kado terindah dihari kasih sayang sehingga tidak sedikit yang menanti moment ini untuk saling memasrahkan diri untuk merenggut kenikmatan diatas kisah tragis valentine yang memilukan.
Sebuah pengakuan jujur akan ritual seks ini dimuat dalam salah satu koran lokal jawa timur medio februari 2011 yang lalu, seorang pemilik tokoh bernama Umar yang menjual jaket kulit tipis (kondom) mengemukakan bahwa pada hari-hari biasa hingga tengah malam jaket kulit tipis yang dia jual hanya laku sebanyak sembilan buah tapi menjelang valentine hingga sehari setelah valentine dari jam tujuh malam hingga jam sembilan malam jaket tipisnya sudah laku hingga empat puluh lima buah. Ini Cuma pengakuan satu penjual, bagaimana dengan penjual lainnya dan bagaimana pula dengan mereka yang merayakan ritual seks ini yang bukan tipe pengagum jaket tipis ini. Dari pengakuan Umar ini tentu kita berkesimpulan bahwa ada rutinitas seksual terselubung yang menjadi penunggang gelap dibalik perayaan kasih sayang yang mendunia.

Membaca pengakuan dan data penjual jaket tipis ini tentu akan mengantarkan pemiiran kita pada kalkulasi bisnis. Dimana dari kacamata pebisnis tentu penyimpangan dalam perayaan valentine yang berubah makna dari kasih sayang menjadi ritual seks adalah sebuah lahan bisnis yang menggiurkan mengingat ritual seksual ini adalah hasrat abadi yang bebas dari kepunahan. Penyimpangan ini adalah sebuah peluang bagi para pebisnis jaket tipis untuk meraup keuntungan. Sehingga yang menjadi pertanyaan kita adalah adakah kepentingan pebisnis kondom dibalik meriahnya ritual seks yang berkedok valentine ini.
Malang, 06 Februari 2012