Selamat Datang

Mencoba Melukis Makna Dalam Deretan Aksara

Kamis, 02 Juli 2020

Membangun Desa Membangun Indonesia


Desa dengan segala entiasnya, saat ini dipandang sebagai objek pembangunan. Keberadaannya dianggap sebelah mata dan tidak memberikan sumbangsih yang besar bagi negara. Masyarakat desa dipandang dengan sinis, mereka dianggap sebagai objek yang memberikan beban dan harus diatur oleh negara. Negara menghabiskan banyak anggaran hanya unttuk membangun desa, negara melihhat ahwa desa merupakan gudang segala persoalan sosial, ekonomi, kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan. Untuk memperkuat argumen yang atas kebodohan masyarakat desa, kemudian dihembuskan wacana kapasitas sumber daya manusia. Ketika pembangunan desa gagal, ketika perubahan kearah kemajuan desa sulit dicapai, mereka tidak melakukan refleksi terhadap pendekatan dan kebijakan yang tidak relean dengan kepentingan desa, melainkan menuduh ketidak mampuan desa sebagai penyebab utamanya.

Sebelum hadirnya negara Bangsa, desa sudah memiliki kedaultan, kehidupan sosial mereka sudah berlangsung sejak awal kehidupan manusia. Institusi desa bukanla institusi yang kaku dan mati tetapi sebaliknya, ia merupakan institusi yang hidup dan bisa bertahan hingga saat ini. Sir Henry Maine mengungkapkan bahwa Desa bukanlah institusi yang mati, tetapi institusi yang hidup. Ia otonom, tidak diserap kedalam perkumpulan manusia yang lebih besar atau hilang dalam sebuah wilayah yang luas. Ia adalah komunitas swadaya dengan pola kepemilikan komunnal dan tertutup. Intitusi desa  secara organik sudah ada dan sudah menjalankan sistem pemerinttahan sendiri layaknya sebuah republik. Terkait dengan ungkapan republik desa, beberapa peneliti menemukan bahwa keberadaan republik desa di Indonesia ditemuakan di padang dan Bali. Secara jelas Metcalfe mengungkapkan bahwa Desa adalah republik kecil, memiliki hampir segala sesuatu yang mereka inginkan dalam diri mereka sendiri, dan hampir terlepas dari hubungan luar. Mereka tampaknya bertahan dimana tidak ada lagi yang bertahan. Dinasti demi dinasti runuh, revolusi demi revolusi silih berganti, tetapi masyarakat desa tetap sama. Persatuan masyarakat desa, masing-masing secara terpisah membentuk negara kecil dalam diri sendiri, yang saya yakin, memberikan kontribusi lebih untuk pelestarian rakyat melalui semua revolusi dan perubahan yang membuat menderita dan dalam tingkat tinggi kondusif untuk kebahagiaan mereka, sekaligus kenikmatan atas kebebasan dan kemerdekaan.

Merujuk pada berbagai referensi yang ada, kita bisa memahami bahwa peran desa dalam mengokohkan keberadaan negara sangat besar. Nilai-nilai yang terkandung dalam pembentukan bangsa Indonesia merujuk pada nilai-nilai yang dianut oleh Desa. Karenna itu tidak berlebihan jika Railoan menuturkan bahwa Desa dianggap Kandungan bangsa Indonesia, pembentuk dan gudang nilai-nilai tradisi. Dari desalah berasal pengertian kekluargaan, semangat hidup dan gotong royong. Kebangsaan Indonesia merupakan perluasan dari keluarga besar masyarakat Desa. Demokrasi ala Indonesia mengikuti model demokrasi kekeluargaan yang disangka sifat khas desa, dengan sistem musyawarahnya dan pencarian konsesus yang disebut mufakat.  Dengan nada yang sama dengan Railoan, Sukarno menjelaskan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh bangsa ini berakar dari Desa, mulai dari gotong royong, musyawarah maupun demokrasi terpimpin.

Desa sebagai pemberi sumbangsih terbesar agi nilai-nilai yang dianut oleh bangsa ini maka desa tidak pantas dilihat dengan sinis. Keberadaan desa sebagai republik adalah dasar bagi negara, Barendes menjelaskan bahwa Republik desa adalah dasar bagi negara, lagipula desa mengisi banyak fungsi dasar negara, dan desa tetap mempunyai hubungan organnik dengan kerajaan melalui sumpah suci.  Eksistensi desa yang banyak menjalin hubungan dengan kerajaan sebagai bukti bahwa setelah berapa dekade, melewati ruang dan waktu yang tidak sedikit maka sudah seharusnya eksistensi desa menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian. Sudah seharusnya konsep pembangunan kita bergeser pada pembangunan yang memperkuat eksistensi Desa. Kalau selama ini eksistensi Desa hanya dilihhat secara sinis maka saat ini desa sudah harus mendapatkan perhatian lebih. Nawacita dari Jokowi dengan slogan membangun dari desa adalah hal yang sangat positif. Desa yang kuat akan bepengaruh pada eksistensi dan ketahanan sebuah negara. Negara tidak akan kuat kalau desanya lemah, untuk memperkuat negara maka kita harus membangun desa.

Sosok perubahan besar India, mahatma Gandhi bertutur bahwa Masa depan india terletak di desa. Mahatma Gandhi melalukan revolusi di India tidak memulai revolusinya dikota sebagaimana revolusi yang umum dilakukan tetapi Gandhi memulainya dari Desa. Gandi memulai perlawanan dengan bangsa inggris yang menjajah india dengan memperkuat ekonomi Desa. Apa yang diperjuangkan oleh gandi kemudian mampu merubah bangsa India menjadi lebih baik. Apa yang dituturkan oleh Mahatma Gandhi terkait masa depan bangsa India berada di Desa juga senada dengan apa yang dituturkan oleh Muhamad Hatta. Hatta melihat bahwa pembangunan bangsa indonesia tidak akan kuat kalau pembangunan yang dilaksanakan hanya terpusat di jakarta, tetapi harus bisa menyentuh ke desa-desa. Lebih lanjut Hatta menjelaskan bahwa Indonesia tidak akan bercahaya hanya karena obor besar di Jakarta, Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin kecil di Desa.  Merujuk atas apa yang dikemukakan oleh Hatta diatas bahwa Indonesia tidak akan bercahaya hanya karena obor besar di Jakarta, Indonesia baru akan bercahaya karena lilin-lilin kecil di Desa maka apa yang sedang dilakukan oleh para pendamping desa saat ini, erat kaitannya dengan proses bagaimana menyalakan cahaya lilin-lilin kecil yang ada di Desa.

Pendamping Desa selaku salah satu aktor penentu keberhasilan pembangunan Desa memiliki peran dan fungsi yang sangat besar. Kemampuan pendamping desa dalam melakukan tugas-tugas pendampingan merupakan usaha untuk memperkuat eksistensi negara. Kita tidak bisa menilai  bahwa tugas-tugas pendampingan hanya sebuah upaya untuk memberikan perubahan kecil terhadap desa tetapi kita harus menilai tugas-tugas pendampingan merupakan yang sangat luar bisa. Catatan ini tidak untuk mengulas tugas-tugas pendampingan sebagai sebuah misi kecil berskala desa tetapi untuk menyorot bagaimana melakukan tugas-tugas berskala desa tetapi mampu memperkuat dan mempertahankan eksistensi sebuah negara. Sudah saatnya bagi pendamping untuk mengubah mindset berpikir kita bahwa tugas-tugas pendampingan sebagai pendamping data atau tugas-tugas hanya sebatas pengumpulan data saja. Terlepas dari tugas pengumpulan data, tugas-tugas pendampingan berkaitan erat dengan kelangsungan dan eksistensi sebuah negara.



Lipu, 2 Juli 2020